JAMBERITA.COM, JAKARTA - Jurnalisme mengalami tantangan yang sangat besar di era digital ini, jumlah pengguna internet yang meningkat pesat tahun 2019 ini mencapai 175 juta. Pesatnya kemajuan teknologi komunikasi, mendorong adanya perubahan besar yang mempengaruhi media.
Perubahan penting yang ditimbulkan oleh ledakan pengguna internet di era digital ini di antaranya mudahnya tersebar berita hoaks, misinformsi dan disinformasi.
Besarnya pengguna internet itu juga membuat informasi tak sesuai fakta atau palsu, dengan mudahnya tersebar luas. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Satu Data Indonesia berkolaborasi menginisiasi e-Learning Platform Jurnalismedata.id.
Ketua AJI Indonesia, Abdul Manan mengatakan, digitalisasi merupakan perkembangan yang tak terelakkan sehingga jurnalis dan media tidak punya pilihan lain selain berdamai dengannya, yaitu memanfaatkan dampak positifnya. Di antaranya dengan mengembangkan jurnalisme data.
Manan menyampaikan perkembangan digital menjadi peluang bagi media dan jurnalis. "Jurnalisme data adalah tools yang ampuh untuk melawan hoaks dan disinformasi," katanya saat membuka launching e-Learning Platform Jurnalismedata.id, Senin (4/1) di Jakarta.
"Cara melawan informasi palsu dengan jurnalisme data," katanya menambahkan.
Sementara itu, Yanuar Nugroho, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan RI mengatakan, UU Nomor 14 Tahun 2018 mengenai Keterbukaan Informasi Publik, memandatkan pemerintah terbuka dalam data dan informasi.
"Publik harus bisa mengakses dan mendapatkan data pemerintah," kata Yanuar Nugroho.
Karena data berkualitas adalah bahan baku pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan pembangunan yang tepat bagi pemerintah dan masyarakat dapat terlibat dalam mengelola pembangunan. Jurnalis perlu terlibat dalam pemanfaatan data dengan menghasilkan jurnalisme yang bermutu dan berkualitas adalah yang berbasis data.
"Bukan gosip, bukan rumor," katanya.
Jurnalisme yang bermutu berbasis data tidak hanya bermanfaat sebagai bahan baku pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan pembangunan yang tepat. "Tetapi publik ikut mengawasi lewat jurnalisme yang berbasis data," kata Yanuar.
E-Learning Platform ini dikembangkan dengan dukungan USAID CEGAH untuk mendorong jurnalis belajar secara mandiri jurnalisme data sesuai dengan waktu yang dimiliki, jurnalis dapat mengikuti tatap muka dengan mentor-mentor dalam sesi webinar terjadwal.
Platform ini dapat diikuti jurnalis di mana saja selama memiliki jaringan internet dan gratis. Selain platform ini memberikan informasi beragam link data yang dimiliki pemerintah pusat, daerah dan NGO penyedia data. Ke depan diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan antara penyedia dan pemanfaatan data yaitu termasuk jurnalis dan publik. (*/sm)
Kemendagri Jelaskan Pedoman Pemberian Hibah dan Bansos yang Bersumber dari APBD
Begini Gaya Blusukan Krisdayanti di Malang yang Nyaleg DPR RI Lewat PDIP
Maju Caleg DPR RI PDIP dari Jatim V, Krisdayanti Sebut Perusak APK Sebagai Tindakan Pengecut


Kanwil Kemenkum Matangkan Persiapan Kedatangan Menkum Supratman ke Jambi, Ini Agendanya



